” Sigale-gale ” Di Festival Danau Toba 2013

Portal Berita – Sigale-gale, boneka kayu yang konon dibuat sebagai perwujudan mendiang anak raja di Batak menjadi ikon Festival Danau Toba 2013. sore ini digelar Karnaval Sigale-gale, Boneka kayu itu diarak sejauh 18 Km.

Boneka Sigale-gale sejarah kemunculannya bermula ketika seorang Raja di Batak kehilangan anak kesayangannya di medan perang. Sang Raja tidak ikhlas sehingga dibuatlah boneka kayu sebagai perwujudan dari si anak. Boneka itu dinamai sama dengan nama sang anak yaitu Manggale. Sigale-gale ini wujudnya mirip manusia. Si boneka kayu selalu tampil rapi dalam balutan busana khas Batak.

Pada Festival Danau Toba 2013 ini digelar karnaval Sigale-gale. Karnaval dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dari area Open Stage, Tuktuk, Samosir. Para pengisi karnaval ini berasal dari empat puak (kelompok) di Sumatera Utara yaitu Simalungun, Karo, Toba dan Pakpak.

Karnaval diikuti sekitar 300 peserta. Para peserta terbagi dalam beberapa kelompok. Ada kelompok yang membawa lima boneka sigale-gale. Ada juga yang tampil dengan berbagai kostum. Mulai dari kostum menyerupai sigale-gale itu sendiri hingga kostum warna-warni dengan rupa menyeramkan.

Selain kelompok berkostum, remaja-remaja yang memainkan alat musik tradisional Batak juga ikut dalam karnaval. Salah satu alat musik yang dimainkan adalah taganing (gendang). Taganing menurut Rizaldi Siagian, Direktur Festival Budaya Festival Danau Toba 2013, adalah gendang melodi. Alat musik itulah yang kemudian membuat World Drum Festival digelar di festival ini.

Karnaval Sigale-gale ini sebelumnya dibuka dengan tarian Tortor Sawan Sembilan. Tarian tortor ini bertujuan sebagai penolak bala. Setelah tarian selesai dibawakan, rombongan karnaval berjalan kaki menuju Bukit Beta yang jaraknya sekitar 18 km. Dalam rombongan tersebut ada juga Bupati Samosir Mangindar Simbolon dan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar.

Rizaldi Siagian, Direktur Festival Budaya Festival Danau Toba 2013 menjelaskan tujuan dari karnaval ini untuk memperlihatkan bahwa para pemimpin, budayawan dan tokoh masyarakat peduli dengan kebudayaan. Sehingga diharapkan ke depannya masyarakat juga bisa ikut peduli dan memiliki kreatifitas sendiri dalam memperkenalkan budaya lokal secara global.

“Potensi yg ada di warisan budaya dibangkitkan untuk bisa tampil di tataran global,” jelas Rizaldi.