Ada Istana Kuning Di Kalimantan

Ada Istana Kuning Di Kalimantan

Portal Berita – Banyak yang belum tahu, ada peninggalan Kerajaan Kutaringin berupa istana berbentuk rumah panggung dari kayu ulin. Bangunan ini bernama Istana Kuning, meski hanya sebagian kecil bangunan saja yang dicat kuning.

Istana Kuning terdapat di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Meski cukup luas, namun istana ini terkesan kosong. Tidak ada singgasana maupun perabotan khas kerajaan yang berlimpah.

Bangunan asli istana merupakan perpaduan berbagai kebudayaan seperti Melayu, China, dan Dayak. Masuknya unsur China dikarenakan salah satu istri sang pendiri istana tersebut, Sultan IX PR Muhammad Imanudin berasal dari China.

Kini salah satu bagian istana digunakan untuk latihan menari sejumlah anak muda. Mereka berlatih menarikan sejumlah tarian tradisional, seperti saman, gapin, dan tirik. Di bagian tengah bangunan terdapat lukisan raja-raja terdahulu. Ada pula sepasang patung yang mengenakan pakaian khas daerah setempat.

Lemari kaca di salah satu sisi ruangan menampilkan beberapa peninggalan kerajaan, namun beberapa di antaranya adalah barang duplikat lantaran yang asli sudah tidak dimiliki keluarga kerajaan. Misalnya saja ada cermin kuno, guci-guci, dan piring porselen.

“Ada tiga piring di sini. Yang paling atas dan paling kecil itu piring untuk rakyat. Yang kedua untuk istri sultan dan anak-anaknya, sedangkan yang paling besar adalah untuk sultan. Soal piring ini ada filosofinya,” ujar M Syairani, pemandu wisata di Istana Kuning, saat detikTravel mengunjungi istana yang berlokasi di Jl P Antasari, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat.

Filosofi yang dimaksud adalah sultan makan di piring paling besar karena makanan sisa sultan diyakini ada berkahnya bagi masyarakat. Karena itu, sultan akan benar-benar memikirkan makanan yang dimakannya, yakni agar makanan sisanya cukup untuk rakyatnya dan rakyatnya memakan makanan yang sama dengan dirinya. Terdapat pula bendera kerajaan dan aneka tombak. Salah satu tombak lama tampak berkarat, namun menurut Syairani, itu bukan karat melainkan bekas darah manusia.

“Mungkin dulu digunakan pengawal untuk membunuh pemberontak yang mengacau ke istana ataupun penjahat. Karena sudah lama, darah itu mengering dan seolah menyatu,” tutur Syairani.